Rabu, 04 Mei 2022

Curhat, Toxic dan introvert


Hari ini mamahku baru sempat menginap. Sudah 2 bulan lamanya tidak mengunjungiku. Waktu menjelang melahirkan sampai nifas mamah belum sempat menengokku. Dia baru saja menikah lagi tepat saat aku melahirkan cucunya. Tapi dia lebih memilih bersama dan menuruti suami barunya untuk tidak menginap disini dan tentunya asik berjalan-jalan. Finally kini datang dengan membawa cerita masalah lagi dengan suami barunya.

Oh, ya tuhan. Kenapa Ibuku berbeda...

Betapa aku ingat ketika aku kecil, bukan dongeng sebagai pengantar tidur. Tapi aku harus mendengarkan curhatanya tentang kebencian dari setiap ujian kehidupan. Orang-orang yang jahat kepadanya, keadaan yang tidak sesuai harapannya, terus saja diulang setiap harinya.

Saat itu aku selalu setia mendengarkannya, meskipun seringnya membuatku jadi susah tidur. Tapi tidak dengan kakak perempuan ku dia pernah marah kepada mamah untuk tidak menjelek-jelekan bapak. Dulu aku pikir kakakku bukan tipe pendengar yang baik, ia lebih jutek karakternya. Tapi kini saat aku sudah dewasa dan menjadi istri juga ibu. Menceritakan hal-hal buruk tentang orang lain, keadaan yang tidak sesuai harapan, lalu mentransfer nya ke anak, itu tidaklah baik. Sungguh bukan sesuatu yang bijak.


***

Selama masa nifas...

Alhamdulillah, pasca melahirkan perhatian suami jadi berkali lipat. Setidaknya bisa menjadi ketentraman hati saat kecewa mamah tidak datang untuk menengok cucunya.

Suami juga menjadi lebih peka dan ikut handle mengurus anak-anak.

Sempet juga sih baby blues, banyak sedih dan menangis terus. Karena kecapean dan banyak pikiran.

But, hari yang seharunya penuh rindu berakhir menyebalkan juga seperti biasanya.


Mah, stop. Aku tidak ingin mendengar curhatan toxic.


Kenapa hidup serasa banyak masalah terus, setiap hari setiap waktu yang diceritakan masalah, masalah, masalah terus. Di tambah dengan gibah, kebencian, berburuk sangka, yang diulang terus berulang kali. 


Aku benci mendengarnya.


Aku tidak ingin mau tau dengan masalah orang. Bukan berarti aku jahat tapi emangnya kita udah tau kejadian yang sebenarnya?? Terus bagaimana perasaan real orang yang mengalaminya?

Kita kan gak pernah tau??

Lagi pula yang sudah terjadi itu qodarullah. Kenapa tidak mengambil hikmah?

Dan diantara saudara kandungku ada yang ikut terpengaruh hasil dari toxic curhatan mamah. Itu mengapa membuat aku tidak suka, karena efeknya melemahkan mental dan banyak lagi yang membuatku mengasihani keluarga besar ku, sekaligus membuatku tidak percaya.

Buat kamu yang suka curhat. Jangan, jangan jadikan curhatanmu itu untuk mencari pendukung atas orang yang kamu salahkan dibalik masalah mu.

Akupun punya masalah dan kehidupan sendiri. Energiku habis kalo dipake hanya untuk mengurusi orang. 

Semua yang terjadipun sudah qodarullah..

Kenapa tidak fokus saja dengan solusi, perbaikan, intropeksi, ambil pelajaran yang didapat.

Mungkin wajar, sesekali kita butuh di dengarkan. Tapiiiiiii, hanya sebatas butuh motivasi, butuh dihibur, butuh dipeluk.

Bukan, dicari siapa yang bersalah. Terus nyalah-nyalahin orang. Bukanya aku tidak pro. Itu hanya membuatmu tidak berkembang dan tidak bersyukur.

***

Ada rasa syukur saat mamah kembali kesini, membantuku mengurus anak-anak. Ku tawarkan kebaikanku sebagai bakti kepadanya. Tapi aku sudah tegaskan aku tidak ingin mendengar,

1. Masalah yang sudah pernah diceritakan, diceritakan berulang kali

2. Ketidak bersyukurlah dengan menceritakan terus kekurangan/kesalahan orang lain

3. Menebak-nebak siapa sosok dibalik masalah

4. Keputusanya yang tidak sesuai harapan

5. Penyesalan!!!!!!!

6. Peluang mengumbar aib orang lain


Itu curhatan yang toxic banget..

Aku juga tidak mau nasihatku menjadi debat yang rentan menjadikanku durhaka atau perang argument.

Aku hanya ingin ketentraman, hidupku dan dengan segala kekurangan dan kelebihannya yang tidak pernah aku ceritakan padanya. Sungguh aku sangat bahagia, lebih dari cukup.

Tapi malam ini berhasil membuat mood drop. 

Tau gak introvert kalo diginiin? Energinya banyak terkuras bikin dia cepet sakit, padahal bukan masalah dia.

Bagi aku tuh introvert bukanya mudah stres karena kesulitan berkomunikasi atau bersosialisasi karena tidak bisa menumpahkan uneg-unegnya. Salah besar. Introvert aku tuh, lebih fokus sama dirinya sendiri. Gak mau capek-capek ngurusin, masalah orang lain. Bukanya gak peduli. Tapi lebih berpikir cara menempatkan diri. Apa yang baik dan mana yang tidak dilakukan.

Terlalu banyak bicara juga buang energi. Biasanya introvert kalo butuh healing menyalurkannya dengan hobi yang ia tekuni.

Gak tau dah intovert orang lain mah..

Aku sendiri lebih suka curhat lewat tulisan Ketimbang sama orang. 


Jadi stop curhat curhatan toxic...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengawali Bisnis Online Bersama JNE

Sudah setahun lebih saya mulai ngoyo jualan online. Entah apa sebabnya, mungkin karena setiap tahunnya bertambah anak yang membuat saya sema...