H+5 lebaran
Hari ini adalah yang paling ku nantikan, karena suamiku pulang dari Cianjur. Tahun ini ia mudik ke kampung istri pertamanya. Meskipun ada sedikit perasaan marah padanya karena merasa 'ia enak' masih bisa jalan-jalan keluar kota beberapa bulan ini ditambah liburan. Me?? Dari hamil sampai nifas selesai belum mencicipi healing juga. Manaan punggung sakit kalo dibawa naik motor juga sambil gendong bayi. Ya, memang bukan salah siapa-siapa sih, memang belum waktunya aja aku buat healing jalan-jalan. 😥
Rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu. Untuk sekedar membagi tugas rumah dan anak-anak yang gantian butuh dihandle, juga dirinya sebagai teman curhat, teman jalan untar anter.
Lebaran tahun ini aku tidak kemana-mana. Di hari H hanya silaturahmi ke tempat kakak, setelah itu balik lagi, sampai sekarang tok di rumah saja dengan anak-anak. Karena aku asli Bekasi jadi aku gak mudik, gak punya kampung.
Jenuh?
Banget. Apalagi lihat medsos yang isinya liburan semua. Terus mau kemana-mana ga ada yang anter. Lagi pengen banget jajan mpek-mpek atau jjs.
Tentu saja kesepian dan kecapean.
Main ke rumah tetangga pun rasanya malas. Sekedar jalan kaki untuk beli pop ice dan maklor, melihat tetangga berkumpul dan mengobrol pun rasanya tidak tertarik. Apalagi kalo topik obrolanya artis. Huuekkk
Mungkin ini yang sering dibilang orang, seorang introvert mudah stres...
***
Sewaktu remaja aku lebih suka main ke mall sendirian. Maksudnya tanpa geng gitu. Paling kurang nyaman beramai-ramai. Terkesan rempong, riweuh, aku gak suka hal yang heboh. Nanti diantara temen-temenku ada aja yang centil caper heboh, kemana-mana harus satu arah. Misal yang lain pengen ke area bioskop mejeng, atau ke food court, tapi aku lebih suka nangkring di toko buku dan baca buku yang segelnya udah kebuka. Aku bisa anteng di toko buku berjam-jam lamanya. Tapi kalo pergi beramai-ramai ke mall hal itu gak mungkin aku lakuin karena tidak enak dengan teman.
Atau minimal pergi dengan teman yang sama sepertiku. Sama-sama ke satu tujuan kemudian kami anteng disitu masing-masing. Yaps, ke mall dengan kakak perempuan ku yang jarak usia kami tidak sampai 2 tahun adalah paling nyaman. Bisa jadi diri sendiri. Tidak harus berpura-pura so seru jika harus jalan bersama dengan teman-teman. Aku dan kakak sama-sama introvert.
Introvert Dalam Pergaulan Sosial Versi ku
Para ibu-ibu berkumpul untuk sekedar bercerita, sharing, curhat dan apa lagi kalo bukan gibah atau senggol dikit aib sendiri. 😅
Sejujurnya aku paling malas ikut berbicara. Awalnya aku minder dengan diriku sendiri yang terkesan "tidak asyik" jika berkumpul dengan banyak teman. Atau merasa takut di cap sombong karena gak pernah mau ikut nimbrung dalam pembicaraan. Aslinya kalo gak maksain buat ikut terlibat dalam pembicaraan yang aku anggap gak tertarik 👉 diam saja, cengar-cengir aja kalo ada yang ngelucu, atau memisahkan diri dari kelompok dan lebih fokus dengan hal lain sendirian.
Bukan, bukan kuper atau anti sosial ..
Seperti energi yang cepat habis jika dihabiskan hanya untuk mengobrol yang aku anggap tidak penting. Aku tidak bisa ceplas ceplos, terlalu banyak yang dipikirkan sebelum memulai bicara.
Introvert lebih suka menjadi pendengar. Sebatas itu.
Ketika terpaksa berbicara pun agar dianggap nyambung itu masih dipikirkan.
"Tadi gue salah ngomong gak ya?" Atau " harusnya gue gak ngomong begitu"
Tapi jangan salah, bukan berarti seorang introvert itu kaku. Mereka hanya lebih bisa menempatkan diri dimana sebaiknya mereka melakukan atau tidak melakukan.
Aku pernah berdiam diri di satu tempat yang kami sama-sama introvert. Aku dan ibu penjaga warung yang juga introvert. Hasilnya? Tidak ada yang memulai obrolan, haha. But aku suka beliau. Dia fokus berdagang dan tidak ada waktu untuk gibah atau memulai obrolan kepo 🤣
Sesekali kami berbincang cuma tidak banyak. (Aku di warungnya main jajan pop es, ngasuh anak, dan sibuk hapean karena banyak kerjaan di ponsel waktu masih aktif ngonten YouTube. Udah dimonies loh, haha)
Justru aku betah dengan sikap beliau, ketimbang orang yang melontarkan banyak pertanyaan untuk sekedar memulai obrolan. Tapi aku juga penyimak dan suka dengan orang yang mudah bergaul seperti si ekstrovert. Malahan banyak dari sahabat ku yang tipe ekstrovert. Rata-rata mereka itu humoris orangnya. 😊
Introvert dan Ibu Rumah Tangga
Ibuku ekstrovert sedang aku introvert. Ibuku tipe ibu rumah tangga yang tidak bisa hanya diam saja di dalam rumah. Ia perlu mengeluarkan kosa kata perempuanya dengan cara bergaul ke tetangga-tetangga atau orang lewat yang baru saja ia kenal. Ia mudah akrab dengan banyak orang, tapi dia akan mudah stres jika hanya di dalam rumah saja. Dia tipe yang lebih banyak berbicara orangnya.
Berbeda denganku,
Aku lebih suka memiliki sedikit teman, tapi mereka berkualitas bagiku. Aku lebih lebih suka berdiam diri di dalam rumah dari pada keluar berkumpul dengan tetangga untuk menghabiskan waktu luangku.
Dulu sebelum jamanya internet mudah, kalo lowong aku memanfaatkan waktu untuk membaca buku, membuat kerajinan tangan, tidur atau jalan-jalan. Kalo sekarang aku manfaatkan untuk browsing, ngeblog, ngonten. Lebih suka punya peran di balik layar ketimbang jadi netizen. Pokoknya yang menghasilkan cuan 🤣
Ya kadang jenuh dan stres menghadapi anak-anak di rumah. Seorang teman yang sangat aku andalkan dan berkualitas tentunya suamiku sendiri. Aku lebih ingin ditemani kemana-mana dengannya untuk sekedar healing bahkan sampai gibah kecil.
Hah, gibah kecil? 🤣
Meskipun suami hanya mendengar saja dan kadang menegur sih, katanya gak boleh ngomngin orang.
Tapi kan aku cuma ngomongnya sama doi aja, gak ngerumpi. Wkwkwkk
Sejak menikah, dengan sendirinya aku menutup diri dan membatasi diri dari pergaulan dan teman-teman yang dulu pernah akrab. Paling yang tersisa kakak perempuan ku lagi. Itupun sudah lebih dari cukup untukku.
Seorang introvert lebih fokus dalam satu hal jika sudah di dunianya. Biasanya jika sudah menikah dia akan fokus pada pernikahan dan rumah tangganya. Sulit di ajak reuni atau kumpul-kumpul. (Ini sih introvert ala aku sih haha)
Makanya, bagiku sosok suami amat besar pengaruhnya untuk si introvert. Kepada siapa lagi temanya selain suaminya.
Jadi aku anti banget sama laki-laki yang gak mau terlibat sama urusan anak, bantu bebenah. Gak mau banget nikah sama laki-laki yang cuma tau cari nafkah aja tapi ga ada waktu buat keluarga meskipun duitnya bejibun.
Ada yang bilang introvert mudah stres, bahkan kebanyakan yang memiliki gangguan mental adalah seorang introvert?
Kalo ini sih aku gak bisa menilai dari keseluruhan "mereka yang introvert". Untuk healing aku lebih suka menuangkannya ke dalam tulisan. Entah diary, qoutes, blog. Atau melampiaskannya dengan fokus mengerjakan sesuatu yang dikuasainya seperti passion gitu. Fokus pada apa yang ia miliki, sukai, semua tentang pencapaian diri, dll.
Kadang-kadang stres dikit itu wajar lah ya, semua orang juga pasti pernah merasa stres jika,
1. Bosan gak bisa ngapa-ngapain stuck disitu, (berlaku untuk semua orang yang tidak bisa healing dengan caranya sendiri)
2. Realita ternyata jauh berbeda dengan ekspektasi
Aku yang introvert ini lebih bisa bermesraan mengadu hanya dengan "tuhan" yang tahu saat ditimpa masalah dan ujian. Aku lebih suka mendekatkan diri kepada Tuhan dari pada curhat pada orang lain, dan healing dengan silent treatment.
Terlebih dari itu aku sangat menikmati, hidup menjadi ibu rumah tangga yang introvert.
Gak tau apa itu introvert? Sok Googling!





