Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Mei 2022

Introvert

H+5 lebaran

Hari ini adalah yang paling ku nantikan, karena suamiku pulang dari Cianjur. Tahun ini ia mudik ke kampung istri pertamanya. Meskipun ada sedikit perasaan marah padanya karena merasa 'ia enak' masih bisa jalan-jalan keluar kota beberapa bulan ini ditambah liburan. Me?? Dari hamil sampai nifas selesai belum mencicipi healing juga. Manaan punggung sakit kalo dibawa naik motor juga sambil gendong bayi. Ya, memang bukan salah siapa-siapa sih, memang belum waktunya aja aku buat healing jalan-jalan. 😥

Rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu. Untuk sekedar membagi tugas rumah dan anak-anak yang gantian butuh dihandle, juga dirinya sebagai teman curhat, teman jalan untar anter.

Lebaran tahun ini aku tidak kemana-mana. Di hari H hanya silaturahmi ke tempat kakak, setelah itu balik lagi, sampai sekarang tok di rumah saja dengan anak-anak. Karena aku asli Bekasi jadi aku gak mudik, gak punya kampung.

Jenuh? 

Banget. Apalagi lihat medsos yang isinya liburan semua. Terus mau kemana-mana ga ada yang anter. Lagi pengen banget jajan mpek-mpek atau jjs.

Tentu saja kesepian dan kecapean.

Main ke rumah tetangga pun rasanya malas. Sekedar jalan kaki untuk beli pop ice dan maklor, melihat tetangga berkumpul dan mengobrol pun rasanya tidak tertarik. Apalagi kalo topik obrolanya artis. Huuekkk

Mungkin ini yang sering dibilang orang, seorang introvert mudah stres...

***

Sewaktu remaja aku lebih suka main ke mall sendirian. Maksudnya tanpa geng gitu. Paling kurang nyaman beramai-ramai. Terkesan rempong, riweuh, aku gak suka hal yang heboh. Nanti diantara temen-temenku ada aja yang centil caper heboh, kemana-mana harus satu arah. Misal yang lain pengen ke area bioskop mejeng, atau ke food court, tapi aku lebih suka nangkring di toko buku dan baca buku yang segelnya udah kebuka. Aku bisa anteng di toko buku berjam-jam lamanya. Tapi kalo pergi beramai-ramai ke mall hal itu gak mungkin aku lakuin karena tidak enak dengan teman. 

Atau minimal pergi dengan teman yang sama sepertiku. Sama-sama ke satu tujuan kemudian kami anteng disitu masing-masing. Yaps, ke mall dengan kakak perempuan ku yang jarak usia kami tidak sampai 2 tahun adalah paling nyaman. Bisa jadi diri sendiri. Tidak harus berpura-pura so seru jika harus jalan bersama dengan teman-teman. Aku dan kakak sama-sama introvert.


Introvert Dalam Pergaulan Sosial Versi ku

Para ibu-ibu berkumpul untuk sekedar bercerita, sharing, curhat dan apa lagi kalo bukan gibah atau senggol dikit aib sendiri. 😅

Sejujurnya aku paling malas ikut berbicara. Awalnya aku minder dengan diriku sendiri yang terkesan "tidak asyik" jika berkumpul dengan banyak teman. Atau merasa takut di cap sombong karena gak pernah mau ikut nimbrung dalam pembicaraan. Aslinya kalo gak maksain buat ikut terlibat dalam pembicaraan yang aku anggap gak tertarik 👉 diam saja, cengar-cengir aja kalo ada yang ngelucu, atau memisahkan diri dari kelompok dan lebih fokus dengan hal lain sendirian.

Bukan, bukan kuper atau anti sosial ..

Seperti energi yang cepat habis jika dihabiskan hanya untuk mengobrol yang aku anggap tidak penting. Aku tidak bisa ceplas ceplos, terlalu banyak yang dipikirkan sebelum memulai bicara.

Introvert lebih suka menjadi pendengar. Sebatas itu. 

Ketika terpaksa berbicara pun agar dianggap nyambung itu masih dipikirkan.

"Tadi gue salah ngomong gak ya?" Atau " harusnya gue gak ngomong begitu" 

Tapi jangan salah, bukan berarti seorang introvert itu kaku. Mereka hanya lebih bisa menempatkan diri dimana sebaiknya mereka melakukan atau tidak melakukan.

Aku pernah berdiam diri di satu tempat yang kami sama-sama introvert. Aku dan ibu penjaga warung yang juga introvert.  Hasilnya? Tidak ada yang memulai obrolan, haha. But aku suka beliau. Dia fokus berdagang dan tidak ada waktu untuk gibah atau memulai obrolan kepo 🤣

Sesekali kami berbincang cuma tidak banyak. (Aku di warungnya main jajan pop es, ngasuh anak, dan sibuk hapean karena banyak kerjaan di ponsel waktu masih aktif ngonten YouTube. Udah dimonies loh, haha)

Justru aku betah dengan sikap beliau, ketimbang orang yang melontarkan banyak pertanyaan untuk sekedar memulai obrolan. Tapi aku juga penyimak dan suka dengan orang yang mudah bergaul seperti si ekstrovert. Malahan banyak dari sahabat ku yang tipe ekstrovert. Rata-rata mereka itu humoris orangnya. 😊


Introvert dan Ibu Rumah Tangga

Ibuku ekstrovert sedang aku introvert. Ibuku tipe ibu rumah tangga yang tidak bisa hanya diam saja di dalam rumah. Ia perlu mengeluarkan kosa kata perempuanya dengan cara bergaul ke tetangga-tetangga atau orang lewat yang baru saja ia kenal. Ia mudah akrab dengan banyak orang, tapi dia akan mudah stres jika hanya di dalam rumah saja. Dia tipe yang lebih banyak berbicara orangnya.

Berbeda denganku, 

Aku lebih suka memiliki sedikit teman, tapi mereka berkualitas bagiku. Aku lebih lebih suka berdiam diri di dalam rumah dari pada keluar berkumpul dengan tetangga untuk menghabiskan waktu luangku.

Dulu sebelum jamanya internet mudah, kalo lowong aku memanfaatkan waktu untuk membaca buku, membuat kerajinan tangan, tidur atau jalan-jalan. Kalo sekarang aku manfaatkan untuk browsing, ngeblog, ngonten. Lebih suka punya peran di balik layar ketimbang jadi netizen. Pokoknya yang menghasilkan cuan 🤣

Ya kadang jenuh dan stres menghadapi anak-anak di rumah. Seorang teman yang sangat aku andalkan dan berkualitas tentunya suamiku sendiri. Aku lebih ingin ditemani kemana-mana dengannya untuk sekedar healing bahkan sampai gibah kecil. 

Hah, gibah kecil? 🤣

Meskipun suami hanya mendengar saja dan kadang menegur sih, katanya gak boleh ngomngin orang.

Tapi kan aku cuma ngomongnya sama doi aja, gak ngerumpi. Wkwkwkk

Sejak menikah, dengan sendirinya aku menutup diri dan membatasi diri dari pergaulan dan teman-teman yang dulu pernah akrab. Paling yang tersisa kakak perempuan ku lagi. Itupun sudah lebih dari cukup untukku.

Seorang introvert lebih fokus dalam satu hal jika sudah di dunianya. Biasanya jika sudah menikah dia akan fokus pada pernikahan dan rumah tangganya. Sulit di ajak reuni atau kumpul-kumpul. (Ini sih introvert ala aku sih haha)

Makanya, bagiku sosok suami amat besar pengaruhnya untuk si introvert. Kepada siapa lagi temanya selain suaminya. 

Jadi aku anti banget sama laki-laki yang gak mau terlibat sama urusan anak, bantu bebenah. Gak mau banget nikah sama laki-laki yang cuma tau cari nafkah aja tapi ga ada waktu buat keluarga meskipun duitnya bejibun.


Ada yang bilang introvert mudah stres, bahkan kebanyakan yang memiliki gangguan mental adalah seorang introvert?

Kalo ini sih aku gak bisa menilai dari keseluruhan "mereka yang introvert". Untuk healing aku lebih suka menuangkannya ke dalam tulisan. Entah diary, qoutes, blog. Atau melampiaskannya dengan fokus mengerjakan sesuatu yang dikuasainya seperti passion gitu. Fokus pada apa yang ia miliki, sukai, semua tentang pencapaian diri, dll. 

Kadang-kadang stres dikit itu wajar lah ya, semua orang juga pasti pernah merasa stres jika, 

1. Bosan gak bisa ngapa-ngapain stuck disitu, (berlaku untuk semua orang yang tidak bisa healing dengan caranya sendiri)

2. Realita ternyata jauh berbeda dengan ekspektasi

Aku yang introvert ini lebih bisa bermesraan mengadu hanya dengan "tuhan" yang tahu saat ditimpa masalah dan ujian. Aku lebih suka mendekatkan diri kepada Tuhan dari pada curhat pada orang lain, dan healing dengan silent treatment.

Terlebih dari itu aku sangat menikmati, hidup menjadi ibu rumah tangga yang introvert.

Gak tau apa itu introvert? Sok Googling!

So gimana? Apakah kamu juga seorang introvert?


Rabu, 04 Mei 2022

Curhat, Toxic dan introvert


Hari ini mamahku baru sempat menginap. Sudah 2 bulan lamanya tidak mengunjungiku. Waktu menjelang melahirkan sampai nifas mamah belum sempat menengokku. Dia baru saja menikah lagi tepat saat aku melahirkan cucunya. Tapi dia lebih memilih bersama dan menuruti suami barunya untuk tidak menginap disini dan tentunya asik berjalan-jalan. Finally kini datang dengan membawa cerita masalah lagi dengan suami barunya.

Oh, ya tuhan. Kenapa Ibuku berbeda...

Betapa aku ingat ketika aku kecil, bukan dongeng sebagai pengantar tidur. Tapi aku harus mendengarkan curhatanya tentang kebencian dari setiap ujian kehidupan. Orang-orang yang jahat kepadanya, keadaan yang tidak sesuai harapannya, terus saja diulang setiap harinya.

Saat itu aku selalu setia mendengarkannya, meskipun seringnya membuatku jadi susah tidur. Tapi tidak dengan kakak perempuan ku dia pernah marah kepada mamah untuk tidak menjelek-jelekan bapak. Dulu aku pikir kakakku bukan tipe pendengar yang baik, ia lebih jutek karakternya. Tapi kini saat aku sudah dewasa dan menjadi istri juga ibu. Menceritakan hal-hal buruk tentang orang lain, keadaan yang tidak sesuai harapan, lalu mentransfer nya ke anak, itu tidaklah baik. Sungguh bukan sesuatu yang bijak.


***

Selama masa nifas...

Alhamdulillah, pasca melahirkan perhatian suami jadi berkali lipat. Setidaknya bisa menjadi ketentraman hati saat kecewa mamah tidak datang untuk menengok cucunya.

Suami juga menjadi lebih peka dan ikut handle mengurus anak-anak.

Sempet juga sih baby blues, banyak sedih dan menangis terus. Karena kecapean dan banyak pikiran.

But, hari yang seharunya penuh rindu berakhir menyebalkan juga seperti biasanya.


Mah, stop. Aku tidak ingin mendengar curhatan toxic.


Kenapa hidup serasa banyak masalah terus, setiap hari setiap waktu yang diceritakan masalah, masalah, masalah terus. Di tambah dengan gibah, kebencian, berburuk sangka, yang diulang terus berulang kali. 


Aku benci mendengarnya.


Aku tidak ingin mau tau dengan masalah orang. Bukan berarti aku jahat tapi emangnya kita udah tau kejadian yang sebenarnya?? Terus bagaimana perasaan real orang yang mengalaminya?

Kita kan gak pernah tau??

Lagi pula yang sudah terjadi itu qodarullah. Kenapa tidak mengambil hikmah?

Dan diantara saudara kandungku ada yang ikut terpengaruh hasil dari toxic curhatan mamah. Itu mengapa membuat aku tidak suka, karena efeknya melemahkan mental dan banyak lagi yang membuatku mengasihani keluarga besar ku, sekaligus membuatku tidak percaya.

Buat kamu yang suka curhat. Jangan, jangan jadikan curhatanmu itu untuk mencari pendukung atas orang yang kamu salahkan dibalik masalah mu.

Akupun punya masalah dan kehidupan sendiri. Energiku habis kalo dipake hanya untuk mengurusi orang. 

Semua yang terjadipun sudah qodarullah..

Kenapa tidak fokus saja dengan solusi, perbaikan, intropeksi, ambil pelajaran yang didapat.

Mungkin wajar, sesekali kita butuh di dengarkan. Tapiiiiiii, hanya sebatas butuh motivasi, butuh dihibur, butuh dipeluk.

Bukan, dicari siapa yang bersalah. Terus nyalah-nyalahin orang. Bukanya aku tidak pro. Itu hanya membuatmu tidak berkembang dan tidak bersyukur.

***

Ada rasa syukur saat mamah kembali kesini, membantuku mengurus anak-anak. Ku tawarkan kebaikanku sebagai bakti kepadanya. Tapi aku sudah tegaskan aku tidak ingin mendengar,

1. Masalah yang sudah pernah diceritakan, diceritakan berulang kali

2. Ketidak bersyukurlah dengan menceritakan terus kekurangan/kesalahan orang lain

3. Menebak-nebak siapa sosok dibalik masalah

4. Keputusanya yang tidak sesuai harapan

5. Penyesalan!!!!!!!

6. Peluang mengumbar aib orang lain


Itu curhatan yang toxic banget..

Aku juga tidak mau nasihatku menjadi debat yang rentan menjadikanku durhaka atau perang argument.

Aku hanya ingin ketentraman, hidupku dan dengan segala kekurangan dan kelebihannya yang tidak pernah aku ceritakan padanya. Sungguh aku sangat bahagia, lebih dari cukup.

Tapi malam ini berhasil membuat mood drop. 

Tau gak introvert kalo diginiin? Energinya banyak terkuras bikin dia cepet sakit, padahal bukan masalah dia.

Bagi aku tuh introvert bukanya mudah stres karena kesulitan berkomunikasi atau bersosialisasi karena tidak bisa menumpahkan uneg-unegnya. Salah besar. Introvert aku tuh, lebih fokus sama dirinya sendiri. Gak mau capek-capek ngurusin, masalah orang lain. Bukanya gak peduli. Tapi lebih berpikir cara menempatkan diri. Apa yang baik dan mana yang tidak dilakukan.

Terlalu banyak bicara juga buang energi. Biasanya introvert kalo butuh healing menyalurkannya dengan hobi yang ia tekuni.

Gak tau dah intovert orang lain mah..

Aku sendiri lebih suka curhat lewat tulisan Ketimbang sama orang. 


Jadi stop curhat curhatan toxic...


Senin, 25 April 2022

Mencoba Tanpa Medsos dan Internet

 


Malam ini aku melihat senyum dan ocehannya untuk yang pertama kalinya. Tidak terasa bayiku anak ketiga ku, usianya sudah hampir 2 bulan. Kemampuan meresponnya sudah berkembang. Ku lihat anakku yang lainya, si sulung yang tengah bercanda dengan adiknya si nomer dua. Kadang rengekan, teriakan, membuat isi rumah ribut, berisik. Membuatku seperti wasit yang harus mengatur jalannya permainan. 

Sudah dua hari ini ponselku offline. Aku tidak cukup money untuk membeli Kouta. Karena sisa uang pribadiku, ku habiskan semua untuk membeli token listrik yang sudah tinut tinut. Plusnya kehabisan data internet bisa ku manfaatkan untuk istirahat sejenak dari dunia medsos dan segala yang terhubung dengan internet.

Beberapa hari yang lalu sebelum rehat dari signal offline, hati dan pikiranku sedang tidak waras. Berkali kali pun aku pernah melakukan kekerasan verbal ke si sulung dan mencubit anak keduaku. Diri ini sedang sangat lelah luar dalem, sangat lelah. Seakan butuh healing, namun sikon belum mendukung. 😢

Dan aku harus sabar lagi.


Aku merasa hoopless 

Aku butuh silent treatment

Dan juga istirahat dari dunia sosmed dan jualan online.

Alhamdulillah dari kemarin, waktuku terasa lebih banyak menemani anak-anak. Terutama si kakak nomer dua. Ia berhasil puasa YouTube 2 hari ini. Aku mengalihkan dunianya dengan mengajaknya main dan berinteraksi langsung. ini juga tidak biasanya, Yahya sulit diarahkan kalo sedang tantrum rebutan ASI. Tapi, screen time masih, karena kami tidak pernah memakai televisi. Hanya sekedar menonton videonya sendiri yang diputar berulang kali, membuatnya terhibur. 

Akupun sudah mulai terbiasa menghadapi bentrok mengasihi, begitupula Yahya. Meskipun ada sedikit-dikit tantrumnya lagi. Tapi tidak separah saat pertama muncul kehadiran adik barunya.

Kalo sedang kena mental, aku selalu berdoa kepada Allah agar dimudahkan menghadapi pengasuhan ini. 


Sebelum internet offline, beberapa supplier ku sudah mengambil libur duluan. Sudah 2 hari pula dagangan online ku mulai sepi pembeli. Ini karena sebagian agen supplier ku sudah start cuti lebaran. Status jualankupun tidak sebanyak biasanya. Sedikit variasi. Mungkin sudah banyak orang yang telah memiliki pakaian untuk lebaran. Kirim paket di seminggu mines lebaran tidak menjamin barang sampai sebelum lebaran. Akupun tidak berani menjanjikan kepada customer dengan harapan sebelum lebaran barang sampai. Ekspedisi overload.

Alhamdulillah ala kulihal, setidaknya aku sudah banyak meraup untuk bulan ini. Sepertinya sudah satu juta lebih. Nilai yang tidak sedikit buat ku yang hanya bekerja di rumah dibarengi ngurus anak-anak. 

Selama 2 hari offline dari medsos atau wa, tidak membuat hati ku deg-degan. Pikiranku sedikit lebih enteng dan relax. Lebih fokus dan tidak berekspektasi terlalu tinggi atau Mikir ngalir ngidul kalo lihat posting an org lain.


Tidak membandingi kemampuanku dengan pencapaian orang lain yang terlihat sempurna.


Tidak membandingkan kehidupanku dengan mereka yang 'terlihat' selangkah lebih maju daripadaku


Tidak pusing dengan hot news, berita yang sedang viral dan ikut ikutan mikirin.


Tidak merasa bersalah dan emosi terpendam kepada customer, apabila barangnya belum ready, barangnya belum sampai juga.


Atau merasa diPHPin dengan barang yang diorder malah sold stock, totalin tapi belum bayar atau kepending nungguin TF an. Atau problema lainya di Dunia perdagangan.


Sudah lama aku ingin refreshing. Qodarullah lagi-lagi belum terlaksana. dari aku yang kecapekan parah waktu hamil, si Yahya sering sakit, membuat ku semakin banyak menghabiskan waktu di rumah saja sampai sekarang. Padahal masa nifas sudah habis.

Tapi mau healing ke luarpun butuh biaya. Dan harus siap capek lagi, karena bawa gerombolan bocil.

Healing di luar butuh biaya, hawatir balik dari healing malah stres karena ngabisin duit dan tenaga dan harus kerja rodi lagi sampai butuh healing lagi. Kapan habisnya? Kalo siklus begitu terus??


Mungkin aku butuh rehat. Bukan, bukan berhenti. Cuma rehat sejenak, jangan. Jangan putar balik. Hanya rehat sejenak. Untuk hati yang sedih, pikiran yang lelah. 


H-10 lebaran..


Hari-hari menjelang Lailatul Qadar. Healing kali ini harus perbanyak komunikasi dengan Allah. Istirahat dengan cara mengalihkan kesibukan dengan memperbanyak amal Soleh. Inilah healing yang sesungguhnya.


Libur dari dunia internet meskipun hanya beberapa hari ternyata membuat aku bisa bernafas lega dan membantu menjernihkan pikiran.



Kamis, 14 April 2022

Seharian Tanpa Diapers

Tiba-tiba aku terbangun saat masih mengasihi anakku yang bayi, ya baru saja aku ketiduran. Saat terbangun, Yahya sedang bermain tongkat Stainles panjang sambil berusaha mencolok colok adiknya yang sedang menyusu. Sontak aku kaget dan reflek berteriak. Ku kira dia sedang anteng menonton YouTube kids yang ku berikan untuk mengalihkannya saat aku menyusui adiknya.

Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa, namun berhasil membuat keduanya menangis. Kakak toodller (22 bulan) yang sedang di fase tantrum, menangis meminta ASI. Sedang adiknya di fase grow sprut, lebih rewel, lebih lama ingin disusui dan selalu ingin digendong. Mereka berdua nangis berbarengan, membuat telingaku seakan pengang. Sejenak aku melamun untuk sekedar menenangkan diri, siapa yang harus kususi dulu? 

Ku tatap dasterku yang pinggirnya sudah robek sampai pinggang karena gerakan ku yang harus serba cepat, serba siaga. Ku lihat dibeberapa bagian bawahnya sudah terkena pipis bayi, ku buntel ikat kesamping, agar saat menyusui bayi tidak kedinginan, yang tersisa hanya celana pendek yang kering.

Baiklah aku akan mengasihi yang bayi dulu, dan memberikan smartphone ke anakku yang toodller untuk menonton video mobil-mobilan kesukaannya. 


Nak, maafkan mamah ...

Mamah tau jika salah memberikan kamu screen time terlalu sering, tapi bagaimana agar mamah tenang menyusui adikmu, agar adikmu cepat tertidur tanpa terus bangun lagi, bangun lagi, karena teriakan tangisan kakaknya. Untuk berlatih menyapihpun tidak mudah, untuk saat ini. Mamah hawatir jautuhnya menyapih dalam paksaan sedang kamu menyaksikan juga mamah menyusui adikmu, mamah takut kamu akan berpikir mamah lebih memihak adik, mamah takut kamu berpikir dipaksa mengala demi adik. 


Sudah jam 10 pagi,

Hampir semua bagian kasur sudah basah oleh pipis mereka. Kasur besar sedang di jemur, dan kini giliran kasur ruang tengah yang dijemur. Mumpung di luar matahari cerah, meskipun harus susah payah mengangkat kasur ke depan tapi aku berusaha agar anak-anak nyaman tidur.

Aku merebahkan playmat alas main plastik, kemudian selimut badcover mini di atasnya, juga perlak yang baru saja kering akibat di PUPin si bayi tadi pagi. Menaruh bayi diatasnya, setidaknya bassam sudah kenyang disusui. Hari ini aku harus menjemur, mumpung siang jangan sampai kesorean karena semua salin celana sudah habis. Namun masih saja ditangisi saat menjemur, itupun sudah gerak cepat. Aku menjemur di teras depan, sesekali mataku melirik ke ruang tengah. Ku lihat anakku yang toodller sedang mengelap lantai menggunakan handuk bersih yang baru saja aku angkat dari jemuran. Ya, ia sedang mengelap lantai yang terkena pipisnya.


Aku menghela nafas panjang, oh suamiku cepatlah pulang...


Sudah 2 hari anak-anakku tidak memakai diapers. Clodi yang dipunyapun sudah habis semua dan baru sempat dicuci. Uang kebutuhan kami cepat menipis, karena meningkatnya pengeluaran saat sebelum melahirkan dan setelah melahirkan. Uang yang dipinjam seseorang pun belum dibalikan. Kadang marah jika ditagih "nanti juga dibayar kalo ada" ucapnya. Tapi aku sedang butuh. Aku tidak ingin jika sampai jadi pertengkaran, yang bisa memutus silahturahmi. Lebih baik relakan saja uang yang dipinjam yang tidak dibalikan. 

Kulihat anakku yang bayi sudah tidur sendiri setalah sebelumnya masih merengengek rengek. Biasanya sambil bekerja aku menggendong anak yang bayi, qodarullah gendongannya juga belum kering dan baru dijemur.

Setelah menjemur lanjut ku susui kakaknya dan segera mematikan hapeku. Dan akhirnya kedua nya tidur. 

Ingin rasanya ku ikut tidur, tapi dengan daster lembab, bau Pesing, badan lengket karena belum mandi. Sebaiknya aku gunakan keslatan ini untuk mandi.

Setelah mandi aku tidak langsung ikut tidur siang. Aku harus updet jualan online lagi. Mengecek chat-chat yang masuk dan berharap ada yang membeli. Dari kemarin banyak sekali chat yang masuk, ada yang hanya nanya-nanya, ada juga yang order namun sayang barangnya di pusat cepat habis. Penjualan di ramadhan ini meningkat tapi cepat habis pula stoknya.. belum rezeki memang.

Saat ku cek hapeku, Alhamdulillah ada kabar baik. Salah satu customer ku transfer, keuntungan 20rb dari 2 penjualan Jogger Adidas dewasa ORI, yang ia beli. 

Kemudian aku lanjut men-share produk-produk baru lainya ke grup marketer yang aku pegang. Juga ke status wa dan telegramku. Berharap hari ini mampu tembus sampai 100rb. 50rb untuk beli diapers. 😊

Pelan, pelan gerakan ku, aku tidak mau sampai membuat anakku bangun. Duh, jangan dulu, mamahmu juga blm tidur masih kerja.

Sebenarnya targetku sebelum akhir bulan adalah bisa membayar hutang. Ingatkan cerita ku sebelumnya tentang "salah harga" ya aku harus nombok hampir 200rb karena kecerobohan ku salah cantumin harga 😢

Mumpung hari ini hari Jumat, aku berdoa sering-sering agar dikabulkan. Aku jadi ingat kasus sebelumnya tentang 2 customer yang cancel mendadak rice cooker philipis digital. Padahal sudah aku submit ke pusat supplier. Membayangkan harus nombok pesanan yg hampir satu juta??? Uang darimana coba sedang keutungan paling besarku pun baru ratusan ribu itupun penghasilan dari berjualan online tidak menentu kan?

Qodarullah Allah mengabulkan doaku hari itu, akhirnya aku mendapatkan pembeli pengganti yang cancel. Bahkan bukan hanya 2 orang tapi 3. Keuntunganya sampai 300 itu aku gunakan untuk membayar hutang daster. Setidaknya aku tidak jadi menombok ya kan, malah bisa sampai bayar hutang, Alhamdulillah.

Tiba-tiba Yahya bergerak dan berganti posisi hampir menabrak kepalanya ke dedek bayi. Seketika aku bangun dan, oh punggungku sakit sekali. Pasca hamil dan melahirkan, sakit punggung belum sembuh total, Hmm.. 

Ku lihat ada pesan masuk dari suamiku, ia mengirimkan voice note. Ku naikan sedikit saja volumenya agar anak-anak tidak terbangun. Ku tempelkan speaker hape di telingaku. Oh, tidak, ia mengabarkan akan pulang telat dan buka bersama saat rapat di pondok. Sedih hatiku.


Yaa, Allah semoga hari ini barang yang aku marketer in laris manis. Bisa untuk beli diapers dan bayar hutang aamiin ya allah.

Suara murottal Al Kahfi dan Ar Rahman di masjid tak terasa membuatku mengantuk. berharap ketika bangun ada kabar bahagia.

Tapi aku yakin tidur ini tidaklah lama karena sebentar lagi si sulung akan pulang. Bersiap dengan suara salam dan ketukan pintu yang akan membuatku terbangun atau bahkan adik-adiknya yang sedang tidur di ruang tengah. 



Zzzzzzzzzzzzzz

Rabu, 13 April 2022

Salah Harga


Hari ini terasa sangat lelah. Mataku kian sayu efek kurang tidur semalam. Telingaku cukup pengang mendengar tangisan dan teriakan kedua anakku yang masih bayi belum genap 40 hari dan kakaknya yang masih usia toodller 22 bulan.

Hari ini jualan online shop ku mengalami sedikit masalah. Aku ceroboh memasang harga dengan selisih 50rb lebih. Aku menjual barang berkualitas bagus dengan harga miring yang ku dapat langsung dari supplier partai besar, sehingga harganya bisa lebih murah atau separuh dari harga official nya di market place. Mitochiba yang aku jual sebesar 450 ternyata di pusat 500rb. Sepertinya saat itu aku salah menempatkan angka yang seharusnya 550 malah menjadi 450. Qodarullah, mungkin karena pikiran emak2 ku yang memaksakan multitasking. 

Dengan total pesanan 3pcs. Itu berarti aku harus nombok sekitar 150rb. Untuk level marketer online shop seperti aku ini uang segitu adalah uang besar. Mengingat aku biasanya hanya mengambil untung 5-15rb yaa rata-rata 10rb sih. Beberapa keuntungan besarpun biasanya itu dapat dari tim marketer yang harus aku bagi 2.

Spechless saat tau aku salah pasang harga dan itu baru disadari saat keep PO sudah close beberapa Minggu lalu, aku segera mutar otak agar tidak terjadi kerugian besar alias nombokin, bukanya untung. Aku coba menghubungi markterku dan customer ku, prihal kesalahan pasang harga. Meskipun aku sadar itu sepenuhnya karena kecerobohan ku. Aku mencoba ikhtiar siapa tau mereka mau menerima dan mengikuti harga yang telah direvisi. Dengan perasaan yang sangat tidak enak tentunya dan siap akan konsenkuensinya.


Apa yang harus aku lakukan?

Aku memiliki mimpi ingin punya toko atau usaha sendiri, aku rintis dari awal. Tapi cobaan berjualan selalu mengujiku, seakan-akan aku ingin bilang pada diriku sendiri. Aku stupid, berjualan itu tidak cocok untukku.

Terbayang bayanglah pekerjaan ku sebelumnya saat masih menjadi blogger dan influencer. Penghasilannya lebih besar dari berjualan yang hanya beberapa puluh ribu tapi hanya modal tulisan dan photo aku bisa mendapatkan beberapa ratus ribu. Hmm . . Namun aku memutuskan mundur perlahan. Jika terlalu sering menerima job blogger atau influencer aku takut dosa karena rentan menciptakan kebohongan. Tidak kalah dengan berjualan, amanah yg diemban juga besar. Atau diam saja tidak  apa-apa? 

Mimpiku terlalu besar dan banyak. Apa aku salah?

Aku ingin membeli motor baru lagi, setelah Motor lama ku sudah ku hibahkan untuk saudara kandungku yang lebih membutuhkan, aku ingin smartphone baru, dan banyak hal lainya untuk diriku sendiri. Suamiku adalah laki-laki yang bertanggung jawab, namun dengan ini aku bisa saling membantu tanpa menyusahkan ya, kala gajinya sudah habis sebelum akhir bulan.

Tiba-tiba dalam lamunanku, tak terasa air pipis si bayi menguncur ke arah dasterku. Ini sudah kesekian kalinya dipipisi, padahal hanya telat sedikit memakaikannya diapers, sudah pipis lagi. Ku pandangi daster yang sudah usang ini, lembab, basah dan tidak fresh baunya. Untuk membeli dasterpun butuh dipikirkan berkali kali, padahal aku penjual pakaian. 

Tidak lama si sulung pulang ke rumah dengan membawa 2 anak kitten. Ya Tuhan kerjaan lagi? Bisa dibayangkan betapa rempongnya mengurus kotorannya, makanya, mainya, pantauan agar si toodller tidak mencekik, menarik bulu, atau bahkan memegang ekornya yg kotor.


Aku menarik nafas panjang...


Sepertinya aku butuh rehat sejenak. Tidur sebentar agar waras dan pikiranku jernih. Agar tidak terjadi huru hara di rumah ini, agar aku bisa bijak dalam masalah yang sedang ku hadapi. Yaa, aku rehat sejenak untuk tidak membuka wa. Dan ikut tidur bersama kedua anaku setelah ku mandikan. 

Tak terasa adzan Dzuhur sudah berkumandang. Aku bangun dari istirahat, kudapatkan kabar penolakan dari mereka. Sejenak aku berdoa dan curhat kepada Allah. Apa yang harus aku lakukan?

Aku memiliki mimpi ingin punya toko atau usaha sendiri, aku rintis dari awal. Tapi cobaan berjualan selalu mengujiku, seakan-akan aku ingin bilang pada diriku sendiri, bahwa aku itu stupid, berjualan itu tidak cocok untukku. 


Masih dalam lamunan, sambil mengasihi anak bayi. Anak nomer dua ku menangis dan menjerit -jerit setiap sinyal tontonan youtube loading hanya beberapa detik, but itu sering. Bukanya aku abai terhadap anak diusia seitu ia sudah screen time, karena kalo sedang mengASIhi adik bayinya ia sering cemburu dan tantrumnya mulai lagi. Yahya dalam masa usia tantrum. Belum lagi yang bayi yang sedang melewati fase grow sprut.


"Mamam, mamam.." 


Membuyarkan lamunanku, aku baru ingat terakhir makan itu saat sarapan. Dan itu hanya masuk sedikit sekali, Yahya sedang GTM. ia jadi GTM saat terbiasa minum UHT. Waktu itu kami mengejar BB nya karena stuck di tempat. Dokter anak pun meresepkan susu uht karena Yahya tidak mau sufor. Tapi semenjak adiknya lahir dan ASI mulai normal kembali. Gtm nya Makai parah, sejak menyusu asi lagi.

Sudah jam setengah 3 sore. Yahya tantrum lapar dan minta ASI. Menunggu si sulung pulang dari main terasa sangat lama sedang aku butuh dirinya untuk disuruh-suruh ke warung. Baiklah, aku akan menghangatkan nasi dulu. Sambil mengendong-gendong anak bayi yang masih nemplok menyusu. Lanjut gantian mengasihi Yahya, gantian bayi yang giliran menangis. Begitulah pingpong tangisan mereka. Tidak lama ku cek, Oalah, nasinya ternyata sudah beeuy, lembek dan berair. Padahal baru buat kemarin malam. Terpaksa aku harus keluar cari makanan. Mumpung si Yahya minta makan sendiri, itu artinya dia sudah sangat lapar. 

Setelah melewati tahap kerempongan emak2, pakai hijab, benerin gendongan, tapi blm sempat celanain anak yg masih terlihat pakai diapers saja akhirnya kami cuss otw, jalan kaki tidak jauh dari rumah.

Alhamdulillah tukang frenchchiken sudah buka (nulisnya gimana sih) baru mau pulang tiba-tiba hujan deras. Akhirnya kami menunggu karena kepegung tidak bisa balik. Aku segera menelepon suami agar bisa menjemput kami. Beruntung bulan puasa ini ia pulang lebih cepat, meskipun malam ini bukan waktunya bermalam di tempatku.


***

Sepanjang perjalanan tadi, aku sudah menemukan solusi terbaik dari salah harga.

Bagaimana Rasulullah dulu mengatasi ini jika terjadi dengannya, beliau juga seorang pedagang. 

Ya, yang membuatnya sukses sebagai pedagang karena adabnya, kejujurannya, amanahnya, dan hal baik lainya. Itu yang membuat Rasullullah menjadi inspirasi ku saat belajar berjualan.

Seketika aku berpikir. Jika hal ini terjadi pada Rasulullah, pastilah Rasullullah akan bertanggung jawab. Ya, aku harus bertanggung jawab atas kecerobohan aku karena salah pasang harga. Bukankah ini hanya 150rb? di luar sana banyak pedagang yang merugi atau berhutang sampai jutaan?? 

150rb bagi pedagang sejalan sangat kecil seperti marketer kaya aku ini termasuk tidak mudah mendapatkannya. Terlebih sedang banyak kebutuhan untuk lebaran nanti.

Ya aku harus bertanggung jawab sendiri. Alias nombokin. Entah dari mana lagi uangnya berdoa saja. Mungkin saja dengan ujian ini agar mental dan pengalaman ku lebih matang untuk diamanahi Allah dengan usaha atau bisnis yang lebih besar lagi nantinya.

Wallaualam, niatkan saja diri ini melakukan yang terbaik. Dan yakin serahkan semuanya sama Allah 🥰 Allah selalu memberi jalan yang terbaik. Seperti belum lama ini ada masalah gak jauh dari kasus mitochiba. 2  Pembeli yang sudah pesan digital Rice cooker philipis yang kujual setengah harga dari harga official yang hampir satu juta. Itu pembelinya 22 nya cancel. Padahal sudah ada perjanjian akan transfer, dan sudah diinput ke pusat supplier ku, gak bisa cancel loh. Aku sudah horor membayangkan uang satu juta dapet dari mana untuk nombokin pesanan pembeli yang cancel? Akupun gak enak sama pihak supplier. Bagaimana pun Aku harus bertanggung jawab. Mulailah puter otak mencari customer baru untu peralihan orderan yg dicancel. Aku berdoa dengan sangat bersungguh-sungguh agar tidak nombokin pesanan yg hampir satu juta ini (belum ongkirnya), qodarullah dalam sehari malah dapet 3 pembeli untuk mengganti orderan yg dicancel. Cepet banget kan.. kadang dapet satu pembeli aja susah, ini harga 500rban lgsung dapet 3 pembeli dari 2 yang cancel. Bahkan fee keuntunganya yg langsung di dapat langsung aku bayarkan hutang. Karena memang sudah niat sekali ingin bisa membayar hutang


22.43 WIB

semua pekerjaan rumah yang wajib sudah selesai, meskipun sebelumnya harus menghadapi huru hara rebutan ASI kakak adik. Seperti yang sudah-sudah, kadang sangat lelah dan menyerah untuk minta bantuan susu formula hanya sebatas mengganjal lapar si bayi saat aku sedang mengASIhi kakaknya. Terlebih jika giliran babahnya tidak bermalam disini aku sangat kerepotan. Proses menyapihpun masih panjang. Tidak langsung berhasil seketika. Bulan Juni kakak toodller genap 2 tahun. Itu berarti sekitar 2 bulan lagi. Memikirkan untuk menyapihnya saja aku sudah kebayang capeknya double double.

Alhamdulillah, di jam segini bisa mandi dan ngepel lantai, setelah ngecek orderan dan buat FO untuk nanti pagi, jadi tinggal totalnya. Tadinya sudah tidak sanggup dan berniat langsung tidur karena saking capeknya. Tapi dipikir2 kalo tidur dalam keadaan lengket, daster seharian yg beberapa kali kena ompol, peperan air bekas mandiin si kecil, bekas cebokin sinkecil, peper peper saat masak, itu malah bikin mood gak nyaman dan hawatir bikin emosi karena bad mood gak relax. Dan setelah melakukan itu semua, aku ambil hape dan mulai menulis blog. Membuang kosa kata, sampah2 yang harus dikeluarkan..

Daripada buka sosmed wayah kieu, scrol scroll, komen sana sini, 😆

Yuk tidur, nanti sebentar lagi mamak prepare makan sahur 

Ikut Lomba Blog

 Lucu gak sih, malam ini, malam yang dimana semua anak dan suami sudah tertidur, malam yang harus digunakan istirahat yang katanya 'aku' itu jam mahal emak2 'ingin waras' harusnya tidur, malah nulis buat ikut lomba blog. Iya lomba blog, yang aku tau pesaingnya tulisannya lebih bagus dariku, yang aku pesimis akan menang. Tapi aku coba ikhtiar menangin hadiahnya hanya untuk bisa membeli motor baru. Gak berharap jadi juara pertama tapi minimal bisa menjadi pemenang, di beberapa lomba blog. 🤣

Saya daftar beberapa lomba blog, selain karena butuh uang. Lomba blog memancing blog baru saya ini agar terindeks google. Karena dulu awal-awal ngeblog, trafik bisa sampai ratusan itu berawal dari mengikuti lomba blog.

Awal menulis blog di tahun 2016 berhasil membawa saya mengenal komunitas blogger. dulu sering memenangkan lomba blog di jamannya wkwkw.. jaman sebelum banyak saingan yang lebih jago nulis. Dan kali ini saya ingin mencoba lagi. Tapi kalo tidak menang tidak mengapa. Pelajaran yang pernah saya dapat, jangan terlalu abisius dalam sebuah tujuan. Santai saja tapi kamu "menguasai bidang" itu dan konsisten. 

Sejujurnya saya termasuk yang tidak konsisten mengurus blog. Bagaimana mau konsisten jika yang saya pegang sangat banyak, sebagai ibu yang mengurus anak SD, toodller, dan bayi, belum suami, belum marketer online shop yang punya tim marketer juga, belum ngurus konten video, dulu ngeinflue Instagram masih kepegang, sekarang enggak. Banyak saingan juga sih mengingat follower minimun itu 10k, aku??? Dapet 5k aja belum, baru 4k.. ayo dong bantu follow wkwkw 🤣 just kidding


Saya gak bisa multitasking demi menjaga kewarasan. Menghidupkan kembali blog hanya rindu menulis karena kosa kata ini harus tersalurkan (me introvert dan rumahan jadi jarang mengobrol) dan menulis blog adalah healing terbaik setelah berdoa tentunya.

Jadi tadi abis diajak ngopi berdua sama mas suami, ngofi late. We time kami kala anak-anak sudah pada tidur. Hari ini Alhamdulillah lebih baik dari yang kemarin, orderan banyak yang datang tapi barang banyak yang habis, customer gak kebagian dan refound. Banyak yang nanya-nanya tapi gak beli, membuat saya berharap kala isi ATM bener2 kosong tapi saya yakin rezeki tidak kemana. Saya yakin Allah sedang menguji kesabaran dan kematangan mental saya kala nanti diberi amanah yang lebih besar lagi. Kadang mengahadapi customer yang menyebalkan membuat saya hampir menyerah untuk berhenti jualan online, tapi saya harus Istiqomah untuk sabar dan stay ramah. Inget, inget, cara Rasullullah berjualan. Berjualan termasuk mimpi saya. Ingin menjadi pedagang.


Setelah minum kopi saya susah tidur tapi suami malah gampang banget tidur. Qodarullah baru muncul mood nulisnya. Nulis buat saya itu butuh mood kalo gak mood seakan maksa otak dan endingnya suka gak enakin, terkesan maksa updet blog gitu.


Btw, nanti baca yaa tulisan aku yang aku ikutsertakan lomba ❤️




Mengawali Bisnis Online Bersama JNE

Sudah setahun lebih saya mulai ngoyo jualan online. Entah apa sebabnya, mungkin karena setiap tahunnya bertambah anak yang membuat saya sema...