Sabtu, 01 Januari 2022

DRAMA MELAHIRKAN ANAK PERTAMA, HAMPIR DIRUJUK AKHIRNYA BISA NORMAL

 

Melahirkan anak pertama


Saat itu usia kandungan menurut hpht sudah 41 Minggu, ya lewat hpl tepat seminggu. Rasanya gelisah karena sudah lewat hpl. Padahal tanda-tanda melahirkan seperti sudah dekat, keputihan lebih banyak, kontraksi palsu, juga segala upaya sudah dilakukan untuk memancing kontraksi. Hingga pada Minggu 41 saya mendapati flek pink di CD saat ingin mandi. Tepatnya 6 Januari 2013, pukul 8 malam saya bersiap tidur, rasanya cukup lelah seharian ini. Berbaring sambil menunggu suami pulang kerja sift sore. Tapi tiba-tiba pukul 22 saya terbangun karena merasakan keram. Keram perut bawah seperti saat haid namun ini lebih ke mulas dan tentunya lebih sakit. Ini adalah pengalaman pertama saya melahirkan jadi belum tahu apakah ini yang disebut kontraksi asli?


Okehlah karena sudah mengantuk sekali saya bawa tidur, tapi ternyata sampai menganggu tidur. Kata orang-orang mulesnya itu seperti ingin BAB. Baiklah saya coba ke toilet untuk BAB atau ini kontraksi. Masih gelisah dan bingung harus berbuat apa. Suami masih tidur pulas. Balik lagi ke kasur memutuskan untuk tidur saja. Tapi sakitnya mulai teratur. Saya pandangi jam dinding. Dalam 15 menit kontraksi muncul 45 detik. Begitu seterusnya sampai tiap 5 menit muncul kontraksi. Masyallah karena baru merasakan sakit kontraksi saya tidak tahan dan tidak bisa tidur. Membangunkan suami dan memanggil mamah. Saya mulai panik. Qodarullah bidan di depan rumah jadi cukup berjalan kaki saja untuk periksa. Pas dicek ternyata masih pembukaan 2.


Ternyata baru pembukaan 2 saja sakitnya luar biasa. Masyallah nikmatnya pembukaan 2 sesakit ini? saya membayangkan masih ada 8 pembukaan lagi yang harus dilewati pasti jauh lebih menyakitkan. Karena masih pukul 2 subuh kami memutuskan kembali ke rumah. Di rumah saya sudah tidak mau dan tidak bisa bicara lagi, keringat terus bercucuran, bahkan untuk melangkah ke klinik bidan pun rasanya tidak kuat berdiri. 


Sudah pukul 7 pagi, saya kembali ke klinik. Dicek masih pembukaan 4. Darah mulai banyak mengucur, sepertinya sudah tidak memungkinkan untuk berdiri. Akhirnya saya memutuskan untuk berbaring. Rasa ingin mengejan semakin menjadi, tapi bidan bilang untuk menahannya karena belum waktunya pembukaan lengkap.


Kontraksi yang datang naik turun, sambil sarapan dan minum pocarisweet, masyallah nikmatnya ternyata kontraksi itu. Saya hanya bisa menahan rasa sakit dengan meremas tangan pada besi pinggir kasur. Mencoba mencari posisi nyaman, miring kanan/kiri tetap rasanya sangat sakit dan itu berlangsung lama sampai 12 jam lebih.


Hal yang paling amat saya sayangkan saat itu, adalah penanganan yang kurang optimal dari klinik. Ruangan dipenuhi bidan dan perawat magang yang ngobrol dan menjadikan saya bahan belajar mereka, anak balita pemilik klinik yang bolak balik melihat saya mengejan (tepat di depan kemaluan) membuat saya grogi dan tidak plong, bidan yang kurang handal dan kurang mengedukasi. Tidak membimbing dan beri pengarahan kepada saya, bagaimana mengatur nafas, bagaimana mengejan yang benar. 


"Ayo ayo, mengejan" sambil melihat ke arah pembukaan


"Mengejanya bukan seperti itu, disini dibawah seperti orang BAB bukan dileher"

"Ini selang infusan jangan lepas-lepas" loh Buu saking sakitnya saya pegang kanan kiri besi boro-boro mikirin infusan. Btw, aku gak tau itu infusan apa. Pernah nawarin infus induksi cuma aku tolak. Tapi kayanya dipakein juga. Berarti induksi gagal ya??

"Yah ini mah makin lemah detak jantung janinnya, kelamaan"

"Over aja ke RS di vacum"

Kalimat-kalimatnya banyak buat saya sebagai ibu baru ngedrop.

Usia saya saat itu masih 20 tahun, pengetahuan tentang melahirkan pun masih minim sekali. Bidan pemilik klinik sedang bertugas di puskesmas jadilah saya ditangani oleh yang menurut saya kurang kompeten (sekarang baru sadar)


Sampai akhirnya badan sudah lemas, rangsangan mengejan menjadi melemah, jantung janin mulai melemah, bayi macet dipelawangan.


Saat itu pembukaan sudah 9. Bidan yang menangani saya bidan praktek bukan yang mempunyai kliniknya sehingga penanganan menjadi alot dan lama, kurang cekatan. Bidan menyerah dan menyarankan untuk rujuk ke RS untuk divacum karena sudah darurat janin.


Disitu saya mulai menyerah untuk mengejan, sesakit apapun kontraksi saya, tidak sedikitpun mengeluh apalagi mengeluarkan air mata. Tapi pas dicek menggunakan dioper, detak jantung bayi terdengar melemah saya mulai menangis, mencoba mengejan sekuat tenaga tapi tetap tidak bisa mendorong bayi tanpa diiringi kontraksi yang ikut melemah. Membayangkan untuk ke RS butuh waktu setengah sampai satu jam. Apakah anakku masih bisa bertahan?


Keadaan mulai panik, suami mulai mencari info kendaraan untuk memindahkan ku ke RS. Mamah akhirnya dengan keras kepala meminta langsung Bu haji sang pemilik klinik yang sedang tugas dipuskesmas untuk datang langsung menanganiku (yang menanganiku sebelumnya bidan praktek yg bekerja & magang)


Tidak butuh waktu lama Bu haji datang. Aku sudah pasrah akan dipindahkan ke RS. Tapi beliau bilang ke para pegawainya dengan nada marah sekali, bahwa saya tidak perlu di rujuk ke RS. Dan menyalahkan kinerja pegawainya yang lelet. Tuh kan bener firasatku.


Hanya dengan bantuan instruksi beliau, membantu membenarkan selang infusan yang kurang tepat, membantu memposisikan cara mengejan yang benar seperti melingkarkan kedua tangan ke kedua lutut. Tidak banyak komentar yang buat drop tapi inti.


"Yok, tariiikk nafas panjang, mengejan!" Ucapnya tegas.


Saya mengejan panjang sekuat tenaga. Beliau membatu mendorong perutku dengan sigapnya, qodarullah tidak sampai 1 menit bayiku berhasil dikeluarkan ya dengan sangat mudah. Alhamdulillah...


Haruku menangis bahagia, meskipun sedikit terdengar suara tangisan bayi itu pun harus dipancing dulu oleh Bu bidan. Rasanya menakjubkan melihat bayi yang telah ku kandung 10 bulan lebih lamanya. Pakaian lucu menyelimutinya. Darah masih berlumuran di kepalanya yang terlihat lonjong karena lama di pelawangan/serviks.


Proses menjahitpun tiba..

Sepertinya tidak dibius, lagi-lagi ditangani bidan yang tidak kompeten itu. Masyallah rasa sakitnya masih terasa bahkan sampai masa nifas berakhir. Sekitar 2 bulan lebih. Disusul wasir karena hampir 2 Minggu tidak BAB trauma dengan luka jahitan.


Sambil rebahan, untuk bergerak sedikit pun masih sangat sakit terasa bekas jahitan jadi agak kesulitan memangku si bayi untuk disusui. Saat itu saya merasa lebih sakit proses jahitan daripada kontraksinya. 


Hari itu menjadi moment bersejarah pengalaman pertama saya melahirkan sebagai ibu.


Tapi dari situ saya menjadi pemilih dalam memilih klinik bersalin terutama tenaga medisnya, seperti pengalaman dan keahlian bidanya dan review orang-orang tentang klinik bersalin. Juga lebih mantang lagi mempersiapkan ilmu melahirkan untuk anak selanjutnya.


Ya, begitulah Drama Melahirkan Anak Pertama. Drama yaa hehe... 

Terimakasih sudah baca sampai akhir, jangan sampai setelah baca ini jadi takut melahirkan ya.



Baca juga,

Daftar Perlengkapan Bayi Baru Lahir, Apa saja yang harus dibeli?

Isi Tas Bersalin, Apa saja yang harus dibawa?

Pengalaman Melahirkan Anak Kedua, Melahirkan 42 Minggu +5 hari

Tips Agar Mengurangi Rasa Sakit Saat Kontraksi Melahirkan

Harian Ibu Nifas


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengawali Bisnis Online Bersama JNE

Sudah setahun lebih saya mulai ngoyo jualan online. Entah apa sebabnya, mungkin karena setiap tahunnya bertambah anak yang membuat saya sema...